Kamis, 18 Juli 2024
Selamat Datang di web SMPN 23 Malang, Wilujeng Sumping di web SMPN 23 Malang, Sugeng Rawuh di web SMPN 23 Malang, Rahajeng Rauh di web SMPN 23 Malang, Onomi Fokha di web SMPN 23 Malang, Salama Engka di web SMPN 23 Malang.

CATATAN HARIAN SEORANG CGP KOTA MALANG

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI

PEMIMPIN PEMBELAJARAN DI SMPN 23 MALANG

(MENDIDIK DENGAN HATI)

 

Manusia adalah “zoon politicon” atau mahluk sosial. Artinya adalah, bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian. Karena itu bersosialisasi dengan individu  lain merupakan suatu kebutuhan dan keharusan. Sebagai makhluk sosial, tentu saja manusia tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh dan ketergantungan orang lain. Hal itulah yang akhirnya mendorong manusia pada kondisi tertentu harus membuat suatu keputusan.

Sebuah keputusan yang diambil, terkadang membuat manusia dihadapkan pada kondisi dilema, baik itu untuk kepentingan individu, ataupun kelompok, dalam sebuah organisasi (lembaga atau instansi). Jika berbicara tentang pengambilan keputusan di sebuah organisasi, maka keputusan tersebut mempunyai urgensi bagi keberlangsungan suatu organisasi. Dimana pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada perubahan suatu organisasi ke arah yang lebih baik. Namun sebaliknya pengambilan keputusan yang kurang tepat akan berdampak buruk pada roda organisasi dan administrasinya. 

Sekolah sebagai bagian dari sebuah organisasi tentu tidak bisa lepas dari peran seorang guru sebagai pendidik. Dalam hal ini, guru harus bisa menjadi contoh atau teladan bagi murid-muridnya. Dalam falsafah Jawa, guru berasal dari kata digugu lan ditiru, yang artinya seorang guru itu harus dapat dipercaya dan diikuti. Hal itulah yang menjadi amanat mereka yang mengemban tugas sebagai guru. Oleh karena itu, guru dituntut harus mampu menjadi pemimpin terlebih dahulu. Sejalan dengan hal itu, guru haruslah mampu memberikan contoh yang baik kepada muridnya. Konsep tersebut harus “sejalan antara perkataan dan perbuatan”. Dengan kata lain menjelaskan bahwa guru dituntut untuk bersikap adil, yakni tidak hanya kepada murid, tetapi juga dirinya. Sehingga, jika guru mengucapkan sesuatu, maka dirinya adalah orang pertama yang melakukannya. Hal demikian merupakan langkah pertama untuk murid memberikan kepercayaan yang penuh untuk mengikuti setiap langkah guru tersebut.

Sering kali guru sebagai pendidik dihadapkan dengan berbagai permasalahan dalam upaya memberikan pendidikan terbaik terhadap muridnya. Permasalahan dapat saja terjadi pada pribadi guru sendiri sebagai pendidik, pada murid sebagai peserta didik ataupun pada komunitas sekolah sebagai lingkungan pendidikan. Permasalahannya, upaya menemukan solusi dan pengambilan keputusan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembelajaran dan pendidikan secara menyeluruh.

Sebagai seorang pemimpin dalam pembelajaran, guru selalu terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan tersebut berkaitan dengan cara menemukan serta mengupayakan solusi terbaik atas segala permasalahan yang terjadi dalam suatu proses pembelajaran yang sedang dijalani oleh murid. Keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajar haruslah kreatif mempertimbangkan segala hal yang terkait dengan kebutuhan murid dan berpihak kepada murid sehingga mampu melejitkan potensinya dalam proses pedewasaannya untuk kehidupan yang lebih baik. Sekali lagi yang perlu ditebali dalam konteks pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar bahwa apapun keputusan yang nanti akan diambil oleh seorang pemimpin pembelajar dengan segala tantangannya, maka orientasi utamanya adalah kembali kepada murid, murid dan murid.

  Berbicara tentang proses pengambilan keputusan, guru harus mampu berpikir kreatif, mempertimbangkan banyak hal sehingga keputusan yang diambil dapat memberikan dampak positif pada pihak-pihak yang dilibatkan dalam keputusan tersebut maupun terhadap lingkungan pendidikan secara umum. Untuk itu seorang guru harus dapat dengan cermat membedakan apakah permasalahan yang dihadapi terkait dengan bujukan moral atau dilema etika sehingga dapat memberikan arah yang jelas dalam pengambilan suatu keputusan.

Bujukan moral (benar vs salah) merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. Berbeda dengan dilema etika. Dari pengalaman seseorang yang bekerja di manapun, bahwa dilema etika adalah hal berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika menghadapi situasi dilema etika, aka nada nilai nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggungjawab dan penghargaan akan hidup.  

Proses menyelesaikan suatu permasalahan yang berhubungan dengan dilema etika perlu memperhatikan dan menerapkan langkah langkah 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip penyelesaian dilema serta 9 langkah pemeriksaan dan pengujian dalam pengambilan keputusan. Keterampilan pengambilan keputusan tersebut seyogyanya haruslah dimiliki   oleh seorang guru dalam menghasilkan suatu keputusan terbaik yang berpihak kepada komunitas sekolah.

Demikian pentingnya pengambilan keputusan yang tepat dalam suatu proses pendidikan, sehingga menjadi suatu komponen penting dan mempunyai keterkaitan kuat dengan berbagai program serta upaya untuk memajukan pendidikan yang mampu berdampak baik terhadap murid. Berikut penulis uraikan koneksi antar materi dalam modul Program Pendidikan Guru Penggerak dengan Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran.

 

Pandangan Ki Hadjar Dewantara tentang Filosofi Pratap Triloka berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Dalam dunia pendidikan, KHD mengenalkan sebuah Sistem Among yang pertama kali dikembangkan di Taman Siswa. Metode Among ini berkaitan dengan kata dasar Mong yang mencakup Momong ( merawat dengan tulus), Among (memberi contoh tanpa harus mengambil hak), dan Ngemong (proses mengamati, merawat, menjaga). Dalam sikap yang Momong, Among, dan Ngemong tersebut terkandung nilai yang sangat mendasar, yaitu pendidik memberikan kebebasan atau kemerdekaan. Makna kebebasan disini tidak hanya bebas sebebas-bebasnya, melainkan kebebasan yang bertanggung jawab. Dan pelaksana dari  Momong, Among, dan Ngemong disebut Pamong, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Dalam hal ini KHD menyebutkan bahwa guru disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajarkan anak sepanjang waktu. Guru sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar harus mampu membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani ruhani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggungjawab.

Sebagai perannya dalam mendidik dan mengajar, guru sejatinya adalah pemimpin. Pemimpin bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi orang lain khususnya murid. Kepemimpinan seorang guru dalam pembelajaran sangat mempengaruhi bagimana proses belajar murid. Tentu, hal itu tidak bisa lepas dari proses pengambilan keputusan. Dalam proses pengambilan keputusan kiranya guru diharapkan dapat “menemu-kenali” murid, bila perlu perilaku murid bolek dikoreksi namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang. 

Dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, proses pengambilan keputusan hendaknya melibatkan murid dalam suasana edukatif dan kolaboratif dengan Konsep Patrap Triloka sebagai sistem among ala Ki Hadjar Dewantara. Konsep Patrap Triloka memuat unsur unsur dalam falsafah bahasa Jawa yakni:

1. Ing Ngarso Sung Tuladha (Di Depan Memberikan Teladan)

Sebagai guru atau sebagai pemimpin wajib menjadi suri tauladan bagi muridnya. Dalam arti luas, hal itu berarti semua orang yang berada di depan adalah teladan. Jika pemimpin, maka ia harus menjadi teladan bagi orang orang yang dipimpinnya.

2. Ing Madyo Mangun Karsa (Di Tengah Memberikan Semangat)

Secara umum bahwa pemimpin harus bisa memberikan motivasu dan membimbing bawahannya supaya dapat menciptakan karya yang besar. Pemimpin tidak hanya menjadi contoh, tetapi juga harus memberikan arahan dan bimbingan supaya belajar murid atau kinerja bawahannya lebih terarah dan pasti. Sedangkan dalam pendidikan, guru dituntut harus dapat memberikan bimbingan kepada muridnya agar mereka dapat menemukan bakat atau potensinya dalam dirinya masing-masing. Tentunya dengan kesanggupan guru membimbing sekaligus memotivasi serta melakukan upaya yang mendorong anak didiknya sekecil apapun bentuk dorongannya untuk memompa semangat anak didiknya, akan timbul rasa percaya diri tinggi dan mudah dalam meraih suatu kesuksesan. 

3. Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberikan Dukungan)

Anak-anak, murid atau bawahan yang mulai muncul rasa percaya diri perlu didorong untuk berada di depan. Guru atau pimpinan perlu memberi dukungan dari belakang. Dalam konteks ini, sudah seharusnya generasi tua memberikan kesempatan kepada generasi yang lebih muda untuk berkiprah. Pemimpin diharapkan mampu mendidik dan mengembangkan yang dipimpinnya agar terbentuk pula pemimpin-pemimpin baru yang berwibawa, sehingga tercipta proses regenerasi yang sehat.

Manifestasi Nilai Guru Penggerak dalam Prinsip Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Menurut Rokeach (dalam Modul PPGP Nilai Guru Penggerak, dalam Hari, Abdul H, 2015), nilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Esensi  nilai dalam diri seorang guru dapat berfungsi sebagai standar dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah yang terkait dengan proses pembelajaran sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan dapat pula berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku murid dalam kehidupan sehari-hari. Melihat peranan nilai sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada proses pengajaran dan pendidikan yang dilakukan guru, maka penting bagi seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran untuk bisa memahami dan menjiwai nilai nilai yang dijunjung tinggi.

Nilai nilai yang tertanam dalam diri seorang guru, memiliki peranan penting serta berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sebuah keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan nilai nilai kebajikan universal tentu berdampak pada terciptanya sebuah learning community dimana semua anggotanya adalah pemelajar. Guru guru akan memimpin murid-muridnya untuk mengembangkan sikap sikap dan praktik praktik yang saling mendukung tumbuhnya lingkungan belajar. Sebagai pemimpin pembelajaran guru perlu menanamkan nilai nilai berikut dalam pengambilan sebuah keputusan.

1)    Nilai Mandiri

Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajar mendorong guru untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya dan menjadi keputusannya. Selain itu, nilai mandiri yang tertanam menstimulus guru memulai sebuah perubahan sesuai dengan apa yang diinginkan.

2)    Nilai Reflektif

Suatu keputusan yang telah diambil, terkadang meninggalkan ganjalan atau catatan khusus dalam perjalanannya. Namun, bagaimana seorang guru mampu melihat kembali proses pengambilan keputusan serta memaknai pengalaman yang terjadi untuk dijadikan acuan bagi langkah berikutnya. Nilai reflektif yang dimiliki seorang pemimpin pembelajar dapat membuka kaca mata pemikiran terhadap pengalaman baru yang dilaluinya, melakukan evaluasi serta mengidentifikasi terhadap segala sesuatu yang perlu diperbaiki serta dikembangkan untuk pengambilan keputusan yang tepat.   

3)    Nilai Kolaboratif

Pengambilan keputusan yang tepat dan baik membutuhkan data yang lengkap, peran serta berbagai pihak terkait serta pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah. Manifestasi nilai kolaboratif dalam pengambilan keputusan dapat membangun rasa percaya diri dan rasa hormat antara guru dengan lingkungan sekolah, kerjasama, komunikasi positif, serta memahami peran masing masing pihak dalam situasi tertentu. 

4)    Nilai Inovatif

Nilai inovatif akan tergambar dalam kreatifitas seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam merumuskan suatu Opsi Trilema yang diambil yang merupakan suatu solusi kreatif dalam melakukan pengambilan keputusan dari 9 langkah pemeriksaan dan pengujian keputusan yang dilakukan.

5)     Berpihak pada Murid.

Pada satu titik nantinya dimana seorang guru harus membuat sebuah keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.  Namun segala hal yang diputuskan dan dilakukan tersebut, maka tujuan utama adalah murid. Apapun dan bagaimanapun suatu kondisi atau situasi sekolah, maka acuan utamaya adalah keberpihakan pada murid

 

 

Pengambilan Keputusan yang Mengintegrasikan Coaching dengan Model TIRTA

Menilik kembali kepada filosofi Ki Hadjar Dewantara tentang peran utama guru (pamong), maka memahami pendekatan coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Selaras dengan hal itu, proses pengambilan keputusan yang terkadang melibatkan pihak-pihak terkait pada dasarnya merupakan suatu proses coaching yang lebih kompleks dalam menyelesaikan suatu permasalahan dilema etika. Seorang guru sebagai pengambil keputusan harus dapat bersikap afeksi atas apa yang terjadi pada objek yang bermasalah, sehingga pemahaman dan sudut pandang secara holistic pada objek permasalahan akan memandu guru untuk untuk membuat keputusan yang lebih bijak, serta yang lebih penting menguntungkan pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan tersebut khususnya murid.

Salah satu paradigma pendampingan coaching yang dapat diimplemetasikan dalam proses pengambilan keputusan adalah Model TIRTA. Model TIRTA dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang menuntut guru untuk mampu melejitkan potensi murid agar lebih merdeka. Berangkat dari tahapan Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dilanjutkan dengan Tanggung Jawab, Model TIRTA menjadi cara efektif untuk menerapakan prinsip coaching dalam proses menggali inti permasalahan, menggali potensi diri dan mulai merumuskan solusi bersama sehingga pihak-pihak yang terlibat sama-sama merasakan adanya upaya pengambilan keputusan tersebut adalah untuk kebaikan bersama sehingga timbul rasa bertanggung jawab terhadap keputusan yang dihasilkan.

Pada dasarnya, prinsip pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah menemukan solusi terbaik dari yang terbaik untuk membantu murid dalam menyelesaikan semua permasalahan belajarnya dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan belajarnya, menuntun murid untuk tumbuh dan berkembang dengan segenap kemampuannya dalam menghadapi permasalahan dan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut dengan potensi yang ada pada diri murid itu sendiri. Keputusan yang diambil dalam suatu proses pengambilan dengan langkah yang tepat pada akhirnya tetap akan bermuara pada suatu keputusan yang berpihak kepada anak.

 

Implementasi Pembelajaran Sosial Emosional dalam Pengambilan Keputusan

Proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran merupakan suatu pendewasaan paradigma pemahaman terhadap masalah yang sedang dihadapi. Seseorang dituntut untuk berpikir lebih luas dan melihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda ketika akan mengambil sebuah keputusan. Seperti sebuah pesan baik dari sahabat Rasululloh, Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa “Jangan mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan membuat janji sewaktu sedang gembira”. Dari pesan tersebut, pentingnya seorang guru memahami kondisi sosial emosional diri sendiri sebelum melangkah dalam pengambilan keputusan.   

Dalam pengambilan keputusan, diperlukan pemikiran yang tenang, pengelolaan emosi serta dalam situasi penuh kesadaran (mindfullness).  Dengan demikian, seorang dalam pengambilan keputusan dapat berfikir jernih, bijak, serta tidak emosional.  Dalam menyelesaikan suatu dilema etika terkadang lebih banyak melibatkan emosi baik itu manajemen diri (self management) yang merupakan kemampuan diri dalam mengendalikan emosi agar dapat berfikir secara objektif dalam menyelesaikan suatu permasalahan, kesadaran sosial (social awareness) untuk memahami adanya nilai-nilai sosial yang didasari dengan rasa empati yang mungkin dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Biasanya keputusan dari suatu dilema etika yang didasari oleh rasa empati diyakini dapat menghasilkan solusi emas dari setiap permasalahan. Namun, tidaklah belaku demikian pada semua situasi.

Tentu saja dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terkait orang lain atau orang banyak sangat dibutuhkan kompetensi menjalin hubungan (relationship skill) untuk dapat menggali banyak informasi yang dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan.

Pada akhirnya suatu pengambilan keputusan yang sudah dilakukan dengan langkah-langkah dan pengujian yang tepat tetap saja melibatkan tanggung jawab yang besar dalam implementasinya. Tanggung jawab tersebut dapat saja berupa tanggung jawab moral bagi pengambil keputusan (subjek) dan merupakan konsekuensi yang harus dijalani oleh murid sebagai objek dari keputusan tersebut. Kedua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan ini haruslah menerapkan kompotensi sosial emosional sebagai pengambil keputusan yang bertanggungjawab (responsible decision making)

 

 

Pengambilan Keputusan yang Terintegrasi dalam Pembelajaran Berdiferensiasi

Menurut Ki Hadjar Dewantar (KHD) bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Filosofi Pendidikan KHD menekankan pendidikan selain pada cipta, rasa, karsa namun juga harus mengedapkan pentingnya budi pekerti. Kekuatan itu akan memandu segala kodrat alam dan kodrat zaman yang ada pada anak sehingga menjadi manusia dan anggota masyarakat yang merdeka. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan tetap mempertahankan kodrat anak Indonesia yang mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia.

Anak sebagai pribadi yang unik, dilahirkan dengan segala perbedaannya, berbeda secara kodrat alam, kodrat zaman serta kodrat keadaan. Namun, tak dipungkiri bahwa setiap anak berhak atas segala kebahagiaan serta keselamatan hidupnya, baik sebagai manusia atau sebagai anggota masyarakat.  Dalam hal ini, peranan guru sebagai pamong dalam proses pengajaran dan pendidikan haruslah mampu merespon kebutuhan belajar murid. Selanjutnya perlu diingat bahwa guru bukanlah dewa atau malaikat bersayap yang mampu memenuhi segala kebutuhan murid dan memecahkan semua permasalahan. Tetapi, manajemen pengambilan keputusan dalam proses pembelajaran bersama murid, sangatlah menentukan langkah awal murid untuk sebuah perubahan yang besar.

Nah, seiring perkembangan kodrat zaman murid, KHD menegaskan bahwa didiklah anak anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Hal ini menuntut guru untuk mampu berinovasi dan menyandingkan aktivitas belajar dengan kondisi zaman dimana murid tersebut hidup. Guru juga harus berpikir cerdas dalam mengambil keputusan keputusan yang mampu mengakomodir segala kebutuhan belajar murid, agar murid dapat  tumbuh dan berkembang sesuai bakat serta minatnya masing-masing.  

Pengambilan keputusan tersebut agar relevan dengan kebutuhan murid adalah yang terkait dengan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merepon kebutuhan belajar murid, lingkungan belajar yang “mengundang” murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif serta penilaian berkelanjutan. Lebih lanjut, serangkaian pengambilan keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat guru dalam pembelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan murid sesungguhnya merupakan legitimasi pembelajaran berdiferensiasi itu sendiri. Sebuah proses pembelajaran yang mampu menciptakan lingkungan belajar untuk menumbuhkembangkan profil pelajar pancasila.

 

Ketepatan Pengambilan Keputusan Berdampak pada Terciptanya Lingkungan Belajar yang Positif, Kondusif, Aman dan Nyaman

Dalam upaya pengambilan keputusan yang terkait dengan dilema etika haruslah mempertimbangkan dampak keputusan yang kita ambil baik terhadap murid sebagai objek dari keputusan tersebut maupun dampaknya terhadap lingkungan dalam hal ini sekolah sebagai sebuah sistem pendidikan. Upaya yang dilakukan dalam penyelesaian suatu masalah di sekolah haruslah menjadi tolok ukur nilai baik bagi semua warga sekolah sehingga timbul kesadaran setiap individu di lingkungan sekolah menerapkan nilai-nilai baik tersebut menjadi budaya di sekolah. Suatu keputusan yang baik tidak memuat suatu konsekuensi yang memberatkan si penerima keputusan namun lebih kepada bagaimana melakukan refleksi terhadap keputusan yang diambil untuk dapat dijadikan sebagai pelajaran dan panduan untuk menerapkan nilai-nilai kebaikan yang berdampak kepada semua warga sekolah

 

Perubahan Paradigma untuk Menjalankan Pengambilan Keputusan di Lingkungan Sekolah

Perubahan bukanlah hal yang mudah diterima bagi warga di lingkungan sekolah. Membutuhkan proses, konsistensi serta komitmen dari beberapa pihak untuk mewujudkannya. Bentuk perubahan paradigma pengambilan keputusan yang tepat di lingkungan sekolah dilakukan dengan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis. Ada 9 langkah yang perlu diperhatikan untuk memandu dalam pengambilan dan pengujian keputusan dalam situasi dilema etika yang membingunkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

1)     Mengenali bahwa ada nilai nilai yang saling bertentangan dalam situasi tertentu